fbpx
Karakter Jiwa Kita Diwarnai Cara Berpikir Kita

Karakter Jiwa Kita Diwarnai Cara Berpikir Kita

Pikiran mempunyai kapasitas yang lebih banyak dari apa yang kita duga. “Pikiran kita menentukan dunia kita” adalah prinsip universal yang kuat dalam kehidupan kita: fisik, mental dan spiritual. 
 
Berpikir merupakan salah satu aspek dari kesadaran. Pikiran tidak bisa eksis tanpa kesadaran. Namun, apakah kesadaran membutuhkan pikiran? Apa yang dimaksud dengan pertanyaan ini?
 
Pikiran membutuhkan energi untuk menjadi berdaya. Mengingat definisi bahwa pikiran dapat diidentifikasi sebagai sistem panduan dan program terarah untuk energi yang dikontribusikan ke dunia, bagaimana proses berpikir dapat mendorong ke arah tujuan kita?
 
Dalam Awakening to Zero Point, Gregg Braden menjelaskan pikiran sebagai berikut. “Pikiran dapat dianggap sebagai energi potensial skalar, sumber arah dari sebuah ekspresi energi yang mungkin atau tidak mungkin, terwujud sebagai peristiwa nyata atau vektor. Sebagai sebuah perakitan virtual dari pengalaman Anda, pikiran dapat menyediakan sistem bimbingan dan arah untuk memfokuskan ke mana energi perhatian Anda akan diarahkan”. Ia mendefinisikan “potensial skalar” sebagai pengisian potensi energi yang menunggu untuk digunakan.

Jika bisa menggunakan alat yang mencatat proses berpikir dalam sehari dan kemudian hasilnya dimainkan kembali, kita akan terkejut dan geram karena banyak hal-hal baik yang terlewatkan. 
 
Pengalaman kita mungkin mengilhami untuk kreatif dalam memperkuat pikiran dengan kebiasaan positif, penuh cinta, dan berpikir yang konstruktif. Jadi, lebih baik kita memilih untuk mengembangkan kemampuan dalam mempresentasikan inisiatif, tanggapan kreatif bermanfaat.
 
Pemikiran baru dan perasaan menjadi bagian dari sikap kita. Melalui praktek yang terarah, kita dapat memvisualisasikan, memperkuat gagasan tertentu, dan mengaplikasikan dalam manifestasi kehidupan. Dengan memfokuskan pikiran pada cinta, kekuatan, kebahagiaan, atau sikap rendah hati, kita dapat membuat dan menerima lebih banyak cinta, kekuatan, kebahagiaan, dan sikap rendah hati dalam kehidupan.

Dalam novel La Réponse de Seigneur, Alphonse de Châteaubriant merefleksikan, “Kita menjadi apa yang kita renungkan," tulisnya. Jika pikiran kita sibuk dengan pikiran-pikiran non-produktif seperti khawatir, intrik, gosip, kegagalan, atau dendam, maka pikiran kita diwarnai dengan warna ini. Jika fokus pada sifat-sifat positif seperti gembira, cinta tak terbatas, pelayanan, tujuan Ilahi, antusiasme, ketekunan, dan makna hidup, maka pikiran merespon dengan warna demikian. 
 
Berabad-abad sebelumnya, Marcus Aurelius membuat pengamatan yang sama ketika ia berkata, “Seperti kebiasaan pikiranmu, begitu juga karakter jiwamu - jiwa diwarnai oleh pikiranmu.”

Karena kecepatan perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita disuguhi dengan berbagai pilihan—dengan disertai konsekuensi—yang akan menghasilkan efek jangka panjang. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, ilmu pengetahuan dan teknologi mencapai hal-hal yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Sebagai contoh, kita sekarang dapat memodifikasi iklim dan perubahan keseimbangan alam dengan cara yang tak terbayangkan oleh generasi yang lalu.

Apakah realitas saat ini jauh lebih kompleks daripada yang kita pahami? Apakah kita bergerak di luar pola-pola pikiran dan proses berpikir yang mendominasi kehidupan manusia selama ribuan tahun? Apakah ilmu pengetahuan dan teknologi tumbuh lebih cepat dari kebijaksanaan kita dalam menerapkan temuan ini untuk kehidupan yang bertanggung jawab?
 
Bagaimana kita bisa tetap mengikuti lompatan kuantum dalam evolusi kesadaran manusia? Bagaimana kita bisa mengetahui pilihan mana yang paling bermanfaat dan menguntungkan?

Bagaimana bisa mengembangkan interpretasi yang lebih positif dari orang-orang, peristiwa, dan dunia di sekitar kita? Bagaimana berpikir positif dapat membantu kita belajar dari kesulitan? Apa hubungan antara fokus, ketekunan, kegigihan, dan tujuan, dengan penguasaan pikiran? Bagaimana pengamatan proses pikiran dapat membuka dimensi keabadian? Seberapa sering perhatian kita terfokus pada masa lalu atau masa depan dari pada masa sekarang? Bagaimana mungkin kita mendapatkan kebebasan berpikir bila dihambat oleh proses berpikir yang salah? Juga, apakah ada faktor lain di dalam diri—seperti munculnya kecerdasan tak terbatas dan kecerdasan yang mampu membaca skenario Ilahi? 
 
Pencarian dapat dimulai dengan melihat ke dalam diri sendiri.
 

Isepmalik
[1] Gregg Braden, Awakening to Zero Point (Bellevue,Wash.: Radio Bookstore Press, 1997), hal 195.
[2] Alphonse de Châteaubriant dan Marcus Aurelius, dalam Piero Ferrucci, What We May Be (Los Angeles: J.P.Tarcher, 1982), hal 103.