fbpx
Kabar Baik Buat Dikau yang Pemalas tapi Cerdas

Kabar Baik Buat Dikau yang Pemalas tapi Cerdas

Santai saja orang-orang cerdas pemalas. Sekarang kemungkinan era yang tepat untuk para pemilik sifat cerdas-santuy.



Di dunia di mana stres terkait pekerjaan melonjak apakah pilihan paling pintar adalah menemukan pekerjaan berbeban sekecil mungkin dengan imbalan bagus? Apakah pilihan terbaik bagi karier masa depan yang paling sedikit memerlukan kerja keras?

Menerapkan pendekatan santai dalam menangani sebuah proyek tidaklah negatif. Bill Gates mengatakan, "Saya akan selalu memilih orang cerdas pemalas untuk melakukan pekerjaan sulit, karena dia selalu menemukan cara yang mudah untuk melakukannya."

Jika Anda tidak ingin terlalu jauh beranjak dari rumah: Pemrogram IT. Ini adalah proses belajar terus-menerus, tetapi Anda tidak perlu kerja terlalu keras, dan secara bertahap Anda mengetahui bahwa kebanyakan tantangan terjadi berkali-kali."

Sifat pekerjaannya sendiri mendukung Anda untuk sedikit bekerja. Pemrogram yang baik menulis beberapa baris kode sesedikit mungkin. Ini adalah salah satu profesi yang gajinya bagus, sementara pada saat yang sama, mendukung kemalasan. Para investor mau membuang-buang uang untuk Anda agar menghasilkan pemikiran besar terbaru.

 

Orang cerdas cenderung menghabiskan lebih banyak waktu bermalas-malasan. Demikian temuan riset di Amerika Serikat.


Temuan dari hasil studi di Amerika Serikat tampaknya mendukung gagasan bahwa orang-orang dengan IQ tinggi lebih suka menghabiskan lebih banyak waktu untuk berpikir, ketimbang aktivitas fisik.

Sementara orang yang aktif secara fisik mungkin perlu merangsang pikiran mereka dengan kegiatan eksternal, baik untuk melarikan diri dari pikiran mereka atau karena bosan.

Para peneliti dari Universitas Florida Gulf Coast memberikan tes kepada sekelompok siswa. Dengan kuesioner tentang 'kebutuhan kognisi', peneliti meminta para peserta untuk menilai seberapa kuat mereka setuju dengan pernyataan seperti "Saya benar-benar menikmati tugas yang melibatkan solusi baru untuk masalah", dan "Saya hanya berpikir keras, jika saya harus melakukannya."

Para peneliti, yang dipimpin oleh Todd McElroy, kemudian memilih 30 'pemikir' dan 30 'non-pemikir' dari kumpulan kandidat. Selama tujuh hari berikutnya kedua kelompok memakai perangkat di pergelangan tangan mereka yang melacak pergerakan dan tingkat aktivitas mereka, memberikan aliran data yang konstan tentang seberapa aktif mereka berkegiatan secara fisik.

Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok yang berpikir jauh kurang aktif dibandingkan dengan yang tidak berpikir. Namun tidak ada perbedaan hasil antara kedua kelompok itu untuk akhir pekan.

Temuan penelitian, yang diterbitkan dalam Journal of Health Psychology, digambarkan sebagai hasil yang "sangat signifikan" dan "kuat" dalam hal statistik.

 

 
BBCDeutsche Welle (Independent,digest.bps, the British Psychological Society, Journal of Health Psychology)
Tags: ,

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *