fbpx
Cogito Ergo Sum, Aku Berpikir Maka Aku Ada, dan Ego Pemicu Pikiran Kita

Cogito Ergo Sum, Aku Berpikir Maka Aku Ada, dan Ego Pemicu Pikiran Kita

Cogito ergo sum, "Aku berpikir maka aku ada," ungkap Rene Descartes, sang filsuf Prancis. Descartes ingin mencari kebenaran dengan pertama-tama meragukan semua hal. Ia meragukan keberadaan benda-benda di sekelilingnya, dan bahkan meragukan keberadaan dirinya sendiri.



Descartes berpikir bahwa dengan cara meragukan semua hal termasuk dirinya sendiri tersebut, dia telah membersihkan dirinya dari segala prasangka yang mungkin menuntunnya ke jalan yang salah. Ia takut bahwa mungkin saja berpikir sebenarnya tidak membawanya menuju kebenaran. Mungkin saja bahwa pikiran manusia pada hakikatnya tidak membawa manusia kepada kebenaran, tetapi sebaliknya membawanya kepada kesalahan. Artinya, ada semacam kekuatan tertentu yang lebih besar dari dirinya yang mengontrol pikirannya dan selalu mengarahkan pikirannya ke jalan yang salah.

Sampai di sini, Descartes tiba-tiba sadar bahwa bagaimanapun pikiran bisa mengarahkan dirinya kepada kesalahan, tetapi ia tetaplah berpikir. Inilah satu-satunya yang jelas. Inilah satu-satunya yang tidak mungkin salah. Maksudnya, tak mungkin kekuatan tadi membuat kalimat "ketika berpikir, sayalah yang berpikir" salah. Dengan demikian, Descartes sampai pada kesimpulan bahwa ketika ia berpikir, maka ia ada.

 

 

Siapakah yang mengaktifkan pikiran kita? Kita sendirilah yang mengkreasi pikiran, lalu laju akselerasi pikiran akan semakin cepat berkembang biak sehingga bisa menjadi hutan-pikiran dan kita pun berpotensi tersesat dan bingung sendiri.


Pikiranlah yang melakukan inisiasi mengaktifkan keinginan. Benih pikiranlah yang mengatakan kita ada. Kita mempunyai identitas. Kita eksis. Benih pikiran itu disebut Ego.

 

Di alam jasadi tiga dimensi, sebenarnya kita hanyalah setumpuk daging plus tulang dan darah yang terbentuk dari kumpulan atom, sedangkan 99,9 persen unsur atom adalah ruang kosong berisi energi bergetar. 

Oleh karena pikiran bisa dikreasi, berarti pikiran bisa diatur bisa diarahkan.

Semua eksistensi manusia dimulai dari pikiran. Dan pikiran itu berada pada dimensi lain. Ketika kita berfikir maka sebenarnya kita sedang “mendownload“ energi pikiran dari "Server Semesta" ke otak kita, ke alam dimensi kita.

 

 
Zid