Musik dan Lagu Membangunkan Cinta yang Tertidur di Dalam Hati, Kata Imam Al Ghazali

Musik dan Lagu Membangunkan Cinta yang Tertidur di Dalam Hati, Kata Imam Al Ghazali

Hati manusia diciptakan oleh Yang Maha Kuasa bagai sebuah batu api. Ia mengandung api tersembunyi yang terpijar oleh musik dan harmoni serta menawarkan kegairahan. Imam Al Ghazali bertutur:


Harmoni-harmoni ini adalah gema dunia keindahan yang lebih tinggi, yang kita sebut dunia ruh. Ia mengingatkan manusia akan hubungannya dengan dunia tersebut, dan membangkitkan emosi yang sedemikian dalam dan asing dalam dirinya, sehingga ia sendiri tak berdaya untuk menerangkannya. 


Pengaruh musik, lagu dan tarian amat dalam, membangunkan cinta yang tertidur di dalam hati - cinta yang bersifat keduniaan dan inderawi, maupun yang bersifat ketuhanan dan ruhaniah.

 


Karena, sekadar kenyataan bahwa musik itu menyenangkan tidak lantas membuatnya haram, sebagaimana mendengarkan seekor burung berbunyi; atau melihat rumput hijau dan air mengalir tidak diharamkan.

Terlepas dari kasus-kasus yang melibatkan musik dan tarian yang membangunkan nafsu-nafsu setan yang telah tidur di dalam hati, kita dapati adanya kasus-kasus yang menunjukkan mereka sama sekali halal. 


Misalnya nyanyian orang-orang yang sedang menjalankan ibadah haji yang merayakan keagungan Baitullah di Makkah, yang dengan demikian mendorong orang lain untuk pergi umrah dan haji. 


Demikian pula, musik-musik sendu yang membangkitkan kesedihan karena telah berbuat dosa dan kegagalan dalam kehidupan keagamaan juga diperbolehkan: seperti misalnya musik Nabi Daud. 


Sekarang kita sampai pada penggunaan musik dan tarian yang sepenuhnya bersifat keagamaan. Para sufi memanfaatkan musik untuk membangkitkan cinta yang lebih besar kepada Allah dalam diri mereka,
dengannya mereka seringkali mendapatkan penglihatan dan kegairahan ruhani. 

Dalam keadaan ini hati mereka menjadi sebersih perak yang dibakar dalam tungku, dan mencapai suatu tingkat kesucian yang tak akan pernah bisa dicapai oleh sekadar hidup prihatin, walau seberat apapun. Para sufi itu kemudian menjadi sedemikian sadar akan hubungannya dengan dunia ruhani.

 


Sumber: Kimia Kebahagiaan Al Ghazali - media.isnet

Bagikan Via Line, WhatsApp, Twitter, Facebook

 

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *