fbpx
Tanpa Disadari Kita Bernafas dengan Cara yang Salah, Begini Seharusnya

Cara Olah Nafas yang Selaras dengan Detak Jantung dan Sistem Saraf untuk Menyehatkan Pisik dan Mental

Dalam penelitian Institute of Neuroscience di Trinity College Dublin ditemukan bahwa olah pernapasan adalah kunci kesehatan pisik dan mental.


Pernapasan dengan teknik khusus dapat menyegarkan pikiran dan tubuh kita.

Cara bernapas memiliki efek langsung pada detak jantung. Kemudian itu dapat mempengaruhi setiap sistem utama dalam tubuh.

Pernapasan yang cepat tidak baik untuk tubuh. Jadi, bagaimana Anda bernafas dengan benar?

Cukup bernafas dengan perbandingan rasio 1:2. Ini adalah perbandingan durasi waktu menghirup dan waktu menghembuskan yang secara substansial dapat menormalkan detak jantung Anda.

Cobalah menghembuskan napas dua kali lebih lama dari saat menghirupnya.

Kemudian berkonsentrasilah dan lakukan hal itu hingga 10 menit.

Apa yang Anda lakukan tidak jauh berbeda dari meditasi transendental.

Dengan demikian secara otomatis dapat menyegarkan suasana hati Anda.

 
Menarik Napas Panjang Bisa Meningkatkan Daya Pikir Otak Kita
 
Penelitian menunjukkan bahwa pernapasan mempengaruhi aktivitas otak. Akan membuat lebih mampu mengingat sesuatu dan mengenali situasi saat menghirup napas panjang melalui hidung dan mengeluarkannya melalui mulut.

Saat menghadapi situasi mencemaskan, gelisah ataupun stress, para ahli kesehatan mental telah sejak lama memberikan sebuah saran untuk menarik napas panjang melalui hidung dan mengeluarkannya dari mulut. Bahwa teknik pernapasan ini benar-benar memberi dampak ativitas pada otak dan bahkan dapat meningkatkan memori Anda.

Peneliti Northwestern University merekrut sekitar 100 orang dewasa, beberapa diantaranya diminta untuk membuat keputusan cepat, sambil melihat ekspresi wajah yang melintas sekilas di layar komputer. Ketika seseorang menghirup udara melalui hidung mereka, mereka dapat mengenali ekspresi wajah ketakutan lebih cepat dibandingkan ketika mereka sedang menghembuskan napas.

Dalam tes lain, para peneliti melihat kemampuan partisipan dalam mengingat benda yang berkedip di layar. Dalam hal ini juga, mereka lebih mudah mengingat benda jika mereka melihat benda tersebut selama mereka menghirup napas, dibandingkan saat menghembuskan napas.

Tapi ketika bernapas melalui mulut, semua efek ini akan menghilang.

Penelitian ini menunjukkan bahwa irama pernapasan menciptakan aktivitas listrik di otak, menurut laporan yang diterbitkan di dalam The Journal of Neuroscience.

“Data kami memang masih sangat awal, namun menarik,” kata penulis utama Christina Zelano,PhD, seorang asisten profesor neurologi dari Northwestern University Feinberg School of Medicine. “Dan meskipun terlalu awal pada tahap ini, data ini memiliki potensi untuk membawa beberapa strategi pernapasan yang berguna bagi peningkatan kognitif.”

Dia mengatakan bahwa salah satu temuan utama dari penelitian ini adalah bahwa dengan menghirup napas melalui hidung akan terjadi ‘perbedaan dramatis’ pada area otak yang berhubungan dengan pengolahan emosional (amigdala) dan memori (hippocampus), dibandingkan dengan ketika menghembuskan napas.

Para peneliti menemukan bahwa ketika Anda bernapas dalam, secara otomatis Anda merangsang neuron pada korteks penciuman, amigdala, dan hippocampus, pada seluruh sistem limbik.

Penelitian lebih lanjut pada topik ini mungkin dapat membantu menjelaskan beberapa manfaat psikologis dari meditasi dan pengaturan dalam bernapas, kata Zelano.

Temuan ini juga dapat menawarkan petunjuk tentang mengapa pernapasan kita cenderung menjadi cepat ketika kita merasa takut atau panik. “Sebagai hasilnya, Anda akan menghabiskan waktu yang lebih banyak dalam menarik napas ketika dalam keadaan tenang,” kata Zelano. Hal ini tentu dapat memberikan efek pada fungsi otak, Ia menambahkan, “dan menghasilkan respon yang lebih cepat terhadap rangsangan berbahaya di lingkungan.”

“Jika Anda berada di lingkungan yang berbaya dengan rangsangan yang menakutkan, Anda dapat merespon lebih cepat jika Anda menghirup napas melalui hidung Anda,” katanya.
 

 

health.com; jneurosci.org, national geographic

© 2018 Zid World All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *