Top.Mail.Ru
Alangkah Malangnya Rakyat Negara yang Dilanda Virus Pembohong

Alangkah Malangnya Rakyat Negara yang Dilanda Virus Pembohong

Sudah jadi rahasia umum kalau politisi suka bohong. Tapi coba renungkan, bagaimana jadinya jika politisi jujur. Bingung?

 

Doktrin perancang propaganda Nazi/Hitler, Joseph Goebbels, yang paling sohor dan digunakan para penguasa pembohong adalah: “Kebohongan yang dikampanyekan secara terus-menerus dan sistematis akan berubah menjadi (seolah-olah) kenyataan!”
 
Namun, Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln pernah mengatakan bahwa tidak ada manusia yang sanggup mengingat dengan baik untuk bisa menjadi pembohong yang sukses.

Mengelabui orang lain dengan ''menyatakan hal yang benar'' kini sudah jamak di masyarakat. Itu sebabnya muncul istilah baru yang disebut paltering atau kalau diterjemahkan artinya mempermainkan kebenaran. Kebohongan jenis ini beredar luas di masyarakat masa kini, sehingga batas antara kejujuran dan kebohongan menjadi abu-abu. Alasan mengapa kita berbohong juga tidak jelas lagi.

Pernyataan ini akan bertambah jelas, seandainya Anda menyadari bahwa semua orang suka berbohong.

Padahal bohong lebih menguras mental daripada mengatakan kejujuran. 
 

Seorang peneliti bernama Bella DePaulo bahkan menyebutkan angkanya. Dia mengatakan orang umumnya berbohong satu sampai dua kali dalam sehari.

Hal ini ditemukannya setelah mengajukan pertanyaan kepada responden selama sepekan, kemudian tiap kali orang tersebut berbohong dia mencatat. Termasuk kebohongan yang dianggap untuk kebaikan. Dari 147 responden dalam penelitian tersebut, hanya tujuh yang berani bilang mereka sama sekali tidak mengucapkan kebohongan barang sekali - itupun peneliti hanya bisa menebak jika mereka memang benar-benar jujur.

Ada banyak kebohongan yang didasari alasan yang lugu dan demi kebaikan. Misalnya ''Saya bilang penampilannya cantik, padahal sesungguhnya menurut saya dia kelihatan seperti balon udara.'' Sebagian orang berbohong untuk menutupi perasaan malu, misalnya mereka berpura-pura supaya orang tidak tahu suaminya kena pecat.

DePaulo, psikolog di Universitas California Santa Barbara mengatakan bahwa responden dalam penelitian tersebut tidak sadar sudah berapa kali mereka berbohong. Sebab kebanyakan kebohongan itu dianggap "biasa dan memang diharapkan, akibatnya sulit mengenali kebohongan itu lagi".

Ketika seseorang berbohong untuk memanipulasi orang lain atau secara sengaja untuk menyesatkan orang lain, itu yang lebih mengkhawatirkan. Dan, ini cukup sering terjadi. Lebih sering dari yang kita bayangkan.

Saat peneliti perilaku dari Harvard Kennedy School Todd Rogers dan koleganya berusaha mencari tahu seberapa sering politisi mengelak pertanyaan saat debat, mereka sadar ada persoalan lain yang muncul.

Dengan berkata jujur di fakta yang lain, mereka bisa lari dari tuntutan menjawab sebuah pertanyaan. Mereka bahkan bisa mengatakan sesuatu itu benar padahal tidak. Politisi selalu seperti itu, kata Rogers. Dia dan koleganya kemudian berusaha menggali lebih jauh.

Dia mendapati bahwa mempermainkan kebenaran jadi taktik negosiasi yang sangat umum. Lebih separuh dari 184 eksekutif bisnis di jurusannya mengakui pernah memakai taktik serupa. Penelitian itu juga menemukan bahwa orang yang mempermainkan cenderung meyakini bahwa itu lebih etis daripada terang-terangan berbohong.

Walau demikian, individu yang dipermainkan tidak bisa membedakan antara sedang dibohongi atau dipermainkan. "Mungkin jadinya mereka akan terlalu sering mempermainkan kebenaran namun buat mereka hal ini etis saja, tapi yang mendengar melihatnya sebagai sebuah kebohongan,'' kata Rogers.

Selain itu, sulit juga mengetahui mana 'fakta' yang menyimpang saat kita mendengar hal yang kedengarannya benar.

Dan walaupun faktanya kita sekarang sering mendengar kebohongan dari para penguasa, tetap sulit memergoki mereka saat mereka sedang berbohong. Terlebih kalau mereka berbohong dengan cara mempermainkan fakta.

Psikolog Robert Feldman, penulis The Liar in Your Life, melihat hal ini mengkhawatirkan buat perorangan dan di level yang makro. ''Saat kita dibohongi oleh orang yang punya kekuasaan, keyakinan kita terhadap institusi politik tersebut hancur - sehingga warga sangat sinis menanggapi setiap motivasi mereka.''

Berbohong bisa dan tentu ada tujuan sosialnya. Berbohong bisa membantu seseorang memberi gambaran yang lebih baik dari keadaan sebenarnya, atau membantu politisi menghindar dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak mereka inginkan. ''Tidak etis dan membuat demokrasi kita bertambah buruk, tapi itulah cara otak manusia bekerja,'' kata Rogers.

Sayangnya, seberapa sering kita berbohong tergantung pada cara kita dibesarkan. Berbohong memainkan peranan dalam interaksi sosial sejak usia dini. Kepada anak-anak kita menceritakan tentang peri gigi dan Sinterklas ada atau kita juga meminta anak bersyukur saat mereka menerima kado yang tidak mereka sukai.

''Kita membuat anak-anak bingung,'' kata Feldman. ''Pada akhirnya mereka belajar bahwa walau kejujuran adalah kunci, tapi kadang-kadang boleh-boleh saja dan dimungkinkan untuk berbohong tentang suatu hal.''

Jadi, lain kali kalau Anda mendengar fakta yang aneh atau seseorang mencoba mengalihkan pertanyaan, berhati-hati mungkin apa yang Anda anggap benar bisa jadi kebohongan.

 

Melissa Hogenboom BBC Future

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris artikel ini yang berjudul The disturbing art of lying by telling the truth d iBBC Future.

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *