fbpx
Kisah 'Penyakit Palsu' yang Disulut oleh Pikiran

Kisah 'Penyakit Palsu' yang Disulut oleh Pikiran

Neurolog terkemuka, Dokter Suzanne O'Sullivan memaparkan bagaimana pikiran, asumsi dan perasaan, secara misterius bisa membuat orang menderita penyakit.



O'Sullivan mengaku pernah bertemu dengan pasien yang memalsukan kondisinya. Misalnya Judith, yang mengklaim kerap menderita kejang sebagai efek samping dari kemoterapi leukimia bertahun-tahun lalu. Untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, O'Sullivan meminta Judith untuk dirawat di rumah sakit yang dilengkapi kamera pengawas.

Saat itu, pada pukul 21.15, perawat mendapati Judith terkapar di lantai, tidak sadarkan diri. Tangannya patah. Namun, ketika O'Sullivan memutar ulang rekaman video, ternyata Judith tidak kejang sama sekali.

Judith terekam memukul-mukulkan keras tangannya ke dinding sebanyak empat kali, lalu membaringkan tubuh di lantai sembari menjatuhkan piring hingga pecah, untuk menarik perhatian perawat. Menilik ke rekam jejak medis, ternyata Judith memang tidak pernah menderita leukimia.

Meski orang seperti Judith dengan penyakit 'palsu' bisa memperburuk stigma terhadap apa yang diderita, O'Sullivan masih bersimpati dengan orang seperti Judith.

"Soalnya, pasti kondisi mentalnya buruk sekali sehingga dia bisa melakukan hal seperti itu". Meskipun Judith tidak pernah menderita leukimia, mungkin dia pernah melihat orang lain menderita itu - pengalaman yang sulit baginya untuk dilupakan. "Memalsukan penyakit adalah salah satu gangguan terburuk yang saya ketahui," tutur O'Sullivan.

Saat ini ada riset kecil yang dilakukan untuk mengobati penyakit psikomatik. Namun, O'Sullivan lebih memilih untuk merujuk pasiennya ke psikiater yang diharapkan dapat menghilangkan trauma yang memicu munculnya penyakit.

Pasien dengan gejala kelumpuhan atau kram otot juga bisa disembuhkan dengan fisiotetapi. "Mereka harus belajar menggunakan kaki mereka lagi," jelas O'Sullivan. Seringkali upaya penyembuhannya tidak gampang, apalagi yang terkait dengan kejang-kejang. "Kita harus terus memonitor pasien".

Salah satu perhatian utama O'Sullivan saat ini adalah masih tingginya angka salah diagnosis - dokter-dokter belakangan terus memberikan obat, bahkan melakukan operasi berbahaya, alih-alih mencari tahu akar psikologis dari penyakit yang diderita.

O'Sullivan menyebut ini kemungkinan karena dokter berasumsi akan lebih berbahaya jika penyebab fisik tidak ditangani dibandingkan dengan penyebab psikologisnya. Padahal akibat buruk yang ditimbulkan sama saja.

"Orang-orang yang disebut menderita epilepsi, kemudian mengonsumsi obat-obatan sampai setidaknya dua tahun, hingga akhirnya mereka sadar, bahwa pengobatan tersebut tidak manjur."

Selama masa itu, 'penyakit epilepsi' tersebut telah menjadi bagian dari hidup pasien - mereka telah menceritakan kepada orang-orang dekatnya. Ini membuat semakin sulit bagi pasien tersebut untuk memberitahukan hasil diagnosis baru (berbeda).

"Anda mendapatkan perawatan yang sebenarnya tidak Anda butuhkan, untuk penyakit yang tidak Anda derita - seharusnya dirujuk ke psikiater atau fosioterapis."

O'Sullivan berniat untuk meningkatkan kepedulian tentang penyakit psikomatis ini pada pendidikan awal sekolah kedokteran. "Karena saya mungkin sudah ribuan kali menerima pasien seperti ini tetapi seingat saya tidak ada petunjuk bagaimana cara membantu pasien-pasien tersebut."


O'Sullivan berharap, bukunya, setidaknya membuat orang mulai mendiskusikan masalah tersebut. Sejauh ini, dia telah menemukan sejumlah pasien yang lebih menerima hasil diagnosis bahwa mereka menderita gejala psikomatis. "Saya yakin dalam waktu dekat, pasien-pasien tidak akan lagi malu menceritakan kondisi 'berbeda' mereka."

 

 

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *