fbpx
Kekuatan dari Eksperimen Ekstrem yang Memicu Inovasi

Kekuatan dari Eksperimen Ekstrem yang Memicu Inovasi

Apakah ada bukti ilmiah bahwa kegagalan beruntun adalah hal positif dan memicu inovasi untuk maju? Para periset di Mu Sigma menyebut dalam analisisnya sebagai "kekuatan dari eksperimen ekstrem." Mereka mengklaim sains bisa menunjukkan bahwa kegagalan memicu inovasi ke depan.



Tom Pohlmann, kepala strategi dan nilai di perusahaan analisa data Mu Sigma, mengatakan bukti itu ada. Mereka telah mengkaji secara dalam ide tentang kegagalan beruntun. "Perubahan ritme yang cepat dalam bisnis membuat perusahaan semakin ditekan untuk terus berinovasi, teknologi baru bisa menjawab tantangan itu melalui konsep inovasi-sambil-jalan," katanya.

Laporan Mu Sigma menunjukan kegagalan yang cepat dan terus menerus adalah pendekatan terbaik dan kunci untuk sukses di banyak aspek bisnis.

Para periset di Mu Sigma menyebut hal itu dalam analisisnya sebagai "kekuatan dari eksperimen ekstrem." Mereka mengklaim bahwa sains bisa menunjukkan bahwa kegagalan memicu inovasi ke depan. Pendekatan ini banyak digaungkan oleh para insinyur yang bekerja di farmasi, ilmu material, dan industri otomotif.

"Mereka yang berada di garis depan teknologi harus pergi melampaui batas," kata Ray Gibbs, CEO Haydale, perusahaan yang mempelajari teknik material berbasis di Inggris, Amerika, dan Korea Selatan yang mempelajari graphene untuk meningkatkan kualitas material sehari-hari seperti tinta dan coatings. Gibbs percaya bahwa untuk mengembangkan produk yang sukses Anda harus mencoba banyak ide yang berbeda agar akhirnya mendapat hasil akhir, atau dalam artian: belajar dari kegagalan.

Kegagalan bukanlah hal yang buruk bagi bisnis. Itu hanya mengarahkan kita ke hal lain yang akan terjadi, yang jika dieksekusi dengan benar akan bisa dibangun di atas kegagalan-kegagalan itu, kata Pohlmann. Bahkan perusahaan teknologi Apple mengalami banyak kegagalan, seperti komputer jinjing, The Newton, di masa-masa awal, yang buru-buru dihentikan oleh Steve Jobs.

Pikir kembali pendekatan Anda

"Banyak orang masih beranggapan bahwa kegagalan adalah tanda ketidakmampuan personal dan mereka mencoba menghindarinya sebisa mungkin," kata Andrew Filev, CEO dan pendiri Wrike, perusahaan piranti lunak di Mountain View, California. "Tetapi ketika Anda ingin membangun bisnis sebagai sebuah seri eksperimen, Anda akan melihat bahwa kegagalan adalah hal yang tak mungkin dihindari dalam prosesnya."

Perusahaan Filev harus belajar dari kegagalan-kegagalan awalnya. "Kami mengawali bisnis dengan menyediakan layanan manajemen proyek ke perusahaan lain. Tapi, selagi kita mengatur proyek-proyek pelanggan kami, kami jadi menyadari bahwa kami butuh alat-alat untuk bekerja dengan lebih baik bersama. Kami membangun Wrinke untuk melakukannya, dan segera menyadari bahwa ini juga menjadi masalah bagi di bisnis lain juga." Hasilnya: Filev meluncurkan perusahaan yang sama sekali baru.

Mirip, Lopo Champalimaud, CEO Treatwell, juga kemudian mengubah bisnisnya. Perusahaan, yang awalnya adalah situs daily deals (penawaran diskon murah) bernama Wahanda, berubah bentuk menjadi situs pemesanan perawatan kecantikan. "Saya tidak tahu ada orang yang bisa membangun bisnis yang tidak mengalami banyak perubahan dan harus berubah mengikutinya," kata Champalimaud. "Akan sangat membosankan jika itu mudah."

Tentu saja, berinovasi secara terus menerus bukanlah sesuatu yang baru. Tiap desain dari kereta uap hingga kompor telah mengalami perubahan. "Setiap inovasi memiliki risiko. Selalu ada bahaya ketika mencoba sesuatu, bahwa akan ada kegagalan," jelas Stitian Westlake, Direktur Eksekutif NESTA, organisasi independen yang bekerja untuk meningkatkan inovasi bisnis di Inggris.

Mengubah arus

Bagi banyak perusahaan, krisis keuangan pada 2008 lalu membuat proses kreatif terhambat. Perusahaan enggan mengambil risiko dan lebih takut terhadap kompetisi dan tekanan waktu dan biaya.

Namun, hampir satu dekade kemudian, perusahaan-perusahaan teknologi dan start-up digital mengembalikan lagi semangat eksperimen itu dalam peta. Sebuah strategi yang dibantu dengan perkembangan teknologi - dari Big Data hingga komputasi awan - akan meminimalisir biaya eksperimen secara dramatis. Pertumbuhan ekonomi digital berarti "pengetahuan menjadi lebih cepat dibanding sebelumnya, memaksa perusahaan untuk berpikir cepat dan efisien," kata Pohlmann.

Salah satu area yang sangat penting dalam penerapannya adalah pada pengembangan piranti lunak. Tidak seperti, merakit kompor atau alat pendingin misalnya, piranti lunak adalah industri yang dengan mudah mencoba hal baru dan kemudian bisa mengirim pembaharuannya ke konsumen untuk memperbaiki hal-hal yang kurang. Di OpenStack, sebuah perusahaan yang menciptakan piranti lunak open-source bagi pusat data, filosofi "kegagalan yang cepat dan terus menerus" telah membentuk inovasi. Perusahaan membentuk dirinya sendiri dari eksperimen dengan teknologi baru, dengan menggarisbawahi bahwa terobosan yang nyata tidak akan terjadi jika hanya mengikuti strategi jangka panjang, tetapi dari keputusan mengambil risiko.

"Berpikirlah tentang sebuah aplikasi di ponsel pintar Anda," kata Westlake dari NESTA. Karena biaya eksperimen lebih rendah, cukup mudah untuk melakukan pendekatan "kegagalan yang cepat dan terus menerus" di industri ini.

Ini hal yang tidak bisa dilakukan sebelumnya oleh produk piranti keras yang konvensional. “Ketika industri berubah karena teknologi, akan ada lebih banyak keuntungan yang bisa dieksplorasi dan mengambil risiko," tambahnya.

Usang sebelum diluncurkan

Industri mobil misalnya; "Mobil-mobil mewah sudah menjadi ketinggalan jaman begitu mereka dikirim (ke bagian penjualan). Tetapi kemudian, Anda melihat perusahaan mobil lain seperti Tesla milik Elon Musk, yang bisa terus memperbaharui sistem operasi di mobil-mobilnya," kata Westlake. Sistem operasi di dalam mobil, seperti navigasi satelit, sering ketinggalan jaman dengan cepat. Kini sama seperti iPhone, piranti lunak mobil bisa dengan mudah diperbaharui dari jarak jauh.

Sektor retail, musik, dan farmasi juga memilih pendekatan inovasi-sambil-jalan macam ini. "Ini bisa menjadi hal yang meresahkan tapi itu sebenarnya hal yang baik, dan hal yang diperlukan," kata Pohlmann. "Ini memaksa perusahaan untuk mengikis konsep yang telah ditentukan dan beralih ke mode eksperimentasi dan pembelajaran yang konstan."

Bagi Pohlmann, inovasi ibarat melempar anak panah ke papan yang bergerak: Anda bisa mencoba untuk melempar anak panah lebih akurat, atau Anda bisa melempar lebih banyak untuk meningkatkan probabilitas mencapai tujuan.

 

 

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *