fbpx
Ulama Politik dan Politik Ulama di Pilpres, Pileg, Pilkada

Merenungkan Ulama Politik dan Politik Ulama di Pilpres, Pileg, Pilkada

Pemilu Legislatif, Pilpres, Pilkada, adalah peristiwa politik yang di Indonesia banyak politikus 'mendadak religius' dan banyak tokoh agama ikut nimbrung atau diajak nimbrung main politik.



Setiap kali pagelaran politik ini digelar, para ulama dan tokoh agama (termasuk ustad, pemimpin ormas keagamaan, penceramah, pimpinan institusi agama, akademisi, dlsb.) ikut sibuk menjadi "corong” atau "echo” para politisi dan kandidat atau pasangan calon (paslon) tertentu. Bahkan tidak sedikit para tokoh agama dan ulama yang ikut terjun langsung menjadi "paslon” dan "cawan” (calon dewan).

Fenomena paslon dan "cawan” dari kelompok ulama dan tokoh agama ini sudah menjadi trend dan "menggurita” pasca rontoknya rezim Orde Baru tahun 1998 yang menandai dibukanya kembali kran demokrasi di Indonesia setelah sekian lama "mati suri". Sejak itu, lantaran ada peluang dan kesempatan untuk menjadi politisi atau penguasa, banyak para tokoh agama dan ulama yang terpapar "syahwat” politik.

Tentu saja ada ada tokoh agama dan ulama yang memilih menjadi "golput” dan menjaga jarak dengan dunia politik-kekuasaan. Ulama jenis ini saya sebut sebagai "ulama asketis”, yaitu ulama yang lebih memilih mengurusi umat, memberdayakan warga, dan menjauhi hingar-bingar dunia politik praktis kekuasaan yang korup. Harus diakui, ulama jenis ini kini populasinya semakin menurun dan nyaris menjadi "makhluk langka” sehingga perlu dilindungi supaya tidak terancam punah. Penting untuk dicatat, ulama asketis ini bukan berarti tidak berpolitik. Mereka juga berpolitik tetapi menggunakan mekanisme, cara, strategi, taktik, dan tujuan yang berbeda dengan "ulama politik”, yaitu ulama (dan tokoh agama manapun) yang secara terang-terangan maupun "malu-malu kucing” terjun di dunia politik praktis. Dalam sejarahnya, memang ada bermacam-macam "politik ulama”: ada yang pro dan anti-politik-kekuasaan, tapi ada pula yang memilih di "jalur abu-abu” (istilahnya dulu, "akomodatif-kritis”—akomodatif tetapi tetap kritis terhadap pemerintah).

Simaklah hiruk-pikuk para tokoh agama dan ulama yang didorong oleh "nafsu”, ambisi, keinginan, dan kepentingan tertentu (baik kepentingan politik-ekonomi maupun kepentingan ideologi-keagamaan), mereka rela menjadi "bamper” paslon tertentu. Mereka rela "berkelahi” dan "berperang” (psywar) dengan para tokoh agama dan ulama yang mendukung paslon lain. Demi memuluskan jalan bagi paslon yang mereka dukung itu, mereka juga tidak segan-segan menyitir ayat-ayat dan teks-teks keagamaan sebagai "legitimasi teologis”.

Naifnya atau tragisnya, para "ulama politik” ini saling mengklaim bahwa ayat, hadis, dan pendapat ulama yang mereka pilih, seleksi, dan sitir itulah yang paling sahih, paling valid, paling benar.

Dalam konteks sejarah Islam dan Indonesia, dialektika ulama dan kekuasaan itu selalu pasang surut, tidak pernah menunjukkan garis lurus-linier. Sejak zaman dahulu, para ulama sudah terbelah dalam menyalurkan aspirasi politik mereka. Sebagian dari mereka pro terhadap pemimpin politik tertentu, sebagian lain menjadi "cheerleader” pemimpin politik lain. Sama seperti perkembangan dewasa ini, para ulama dulu juga hobi "berdendang” menggunakan ayat, hadis, aqwal (perkataan/pendapat) para sahabat Nabi Muhammad dan ulama / fuqaha (ahli hukum Islam) tertentu.

Tetapi, jika —mohon maaf— ulama itu hanya bisa mengimami salat, mengaji, berkhutbah, mengisi pengajian atau ceramah saja, tapi "nol jumbo” wawasan politiknya, maka sebaiknya memang mereka mengambil peran sebagai "penyokong moral,” pengayom masyarakat dan penjaga aset kultural saja. Peran ini akan jauh lebih bermanfaat untuk umat dan masyarakat ketimbang ikut-ikutan terjun ke kancah politik yang bisa jadi justru "menjerumuskan” ulama itu sendiri, malah menjadi korban politik, karena "watak” politik yang 'cenderung curang' dan kekuasaan yang 'cenderung korup' itu.


Sumanto Al Qurtuby, Dosen Antropologi Budaya dan Kepala Scientific Research in Social Sciences, King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi, serta Senior Scholar di National University of Singapore. Ia memperoleh gelar doktor dari Boston University dan pernah mendapat visiting fellowship dari University of Oxford, University of Notre Dame, dan Kyoto University. Ia telah menulis ratusan artikel ilmiah dan puluhan buku, antara lain Religious Violence and Conciliation in Indonesia (London & New York: Routledge, 2016)

Deutsche Welle, Editor: Siti Rahmah Zid World
Tags: ,