fbpx
Merasakan Hubungan Langsung Dengan Allah Yang Maha Cinta

Merasakan Hubungan Langsung Dengan Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang, Maha Cinta

Di ruangan belakang masjid Al-Farah di West Broadway, New York, Amerika Serikat, Doktor Lex Hixon alias Syaikh Nur bertutur:
 
 
Ketika kuliah di Universitas Columbia saya mempelajari agama-agama di dunia. Saya bergabung dengan stasiun radio di New York. Selama empat belas tahun saya melakukan wawancara mingguan dengan para pimpinan dan guru-guru agama dari berbagai kelompok aliran. Dan di stasiun radio itulah saya berjumpa dengan dua syaikh yang hebat. Yang satu adalah Bawa Muhaiyaddeen dari Sri Lanka, yang mempunyai masjid di Philadelphia. Selama itu saya telah mewawancarainya sebelas kali dan saya menjadi sangat dekat dengannya.

Syaikh yang satu lagi adalah Muzaffer Ozak. Saya juga mewawancaramya di radio. Saya belum pernah bertemu Syaikh Muzaffer sebelum mewawancarainya. Saya hanya melihatnya duduk di sana dengan tenang. Kami mengatur semua mikrofon, dan saya minta agar program itu dimulai dengan suara azan. Lalu syaikh itu duduk di hadapan saya. Acara itu disiarkan dari puncak Empire State Building (azan yang kami udarakan membuat Empire State Building menjadi minaret tertinggi di dunia)-ketika panggilan shalat itu dikumandangkan, saya memandang wajah syaikh tersebut. Terlihat tetesan air mata mengalir di wajahnya. Saya pikir: Sungguh sebuah ketulusan spiritual! Dia mendengar panggilan itu lima kali sehari, tetapi tetap saja air matanya berlinang setiap kali mendengarnya.

Pada hari Minggu, kemudian hari Selasa malam, syaikh itu mengadakan majelis zikr. Melalui salah seorang darwisnya dia mengirimi saya setangkai bunga mawar. Saya memutuskan untuk tidak masuk ke dalam lingkaran peserta acara zikir itu. Saya berdiri di sudut dengan memegang mawar itu, dan dia terus memandang saya dari tengah lingkaran tersebut. Kemudian dia mengundang saya untuk datang pada hari Kamis malam ke tempat tinggalnya di Spring Valley, New York. Sebelum pergi, dia mencium kening saya. Saya merasakan suatu transmisi spiritual yang sangat hebat.

Malam itu kami melakukan zikir bersama-sama. Keesokan harinya dia berkata, "Saya ingin menjadikan Anda sebagai darwis saya. Saya ingin memberikan nama untuk Anda." Dia melanjutkan, "Namamu adalah Nur." Dan saya berkata, "Saya mempunyai sebuah nama untukmu: Aziz" -- karena nama itulah yang selalu saya pikirkan. Dan semua darwis yang ada di sana terkejut karena Aziz adalah nama rahasia kelompok itu.

Ketika seseorang ingin menjadi penempuh jalan spiritual, dia tidak boleh berpikir dalam kerangka kepribadian yang terbatas. Dia harus melihat seluruh kehidupannya semata-mata sebagai sebuah jembatan --yang sangat sempit-- yang membawanya ke suatu kondisi di mana dia akan memulai perjalanan spiritual. 

 
Pada akhirnya larut ke dalam pengukuhan La ilaha ill Allah. Merupakan jembatan menuju surga persatuan cinta kasih. Di bawah jembatan itu terdapat godaan kehidupan duniawi. Dia tidak boleh terperosok ke dalam godaan itu, baik itu godaan finansial maupun godaan religius. Jembatan itu dapat dilewati hanya jika Anda menginginkan kebenaran. Akhirnya Anda akan mencapai tingkat kesadaran surgawi, tingkat tauhid, tingkat persatuan cinta kasih.

Jiwa tidak muncul begitu saja bersamaan dengan waktu kelahiran, jiwa itu abadi dalam genggaman Allah, sejak zaman tak bermula hingga zaman tak berakhir. 
 
Tak ada satu jiwa pun yang tidak berasal dari Allah dan yang tidak membawa semua kekayaan dan pengetahuan yang telah diberikan pada jiwa itu. 
 
Allah menempatkan seseorang dalam suatu keadaan spiritual tertentu. Allah ada dalam hati saya, dalam tarikan nafas saya, dalam seluruh sistem syaraf saya ketika saya berzikir, dan itu merupakan bagian dari kemurnian zikir. Saya dapat beribadah bersama siapa pun dari keyakinan apa pun. Saya benar-benar merasa nyaman dengan hal itu karena saya tidak merancukan agama saya. 
 
Islam mempunyai dimensi yang sangat luas. Sejak awal terdesentralisasi, namun adalah satu kesatuan ekspresi yang utuh, kontradiksi antara para penganut Islam yang berbeda faham adalah sesuatu yang wajar. Itu bukti desentralisasi -- kebenaran berada dalam hati nurani manusia, dan tidak dengan pemaksaan. 
 
Spirit keagamaan hadir untuk membebaskan manusia merasakan hubungan langsung dengan Allah yang Maha Cinta, Maha Welas Asih. Jadi, sangatlah sulit bagi penganut agama yang murni untuk menindas keyakinan orang lain.
 
 
Siti Rahmah
Sumber: American Jihad, Islam After Malcolm X
Penerbit: Bantam Doubleday, Dell Publishing Group, Inc., New York
 

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *