Nasib Agama di Tengah Revolusi Sains dan Teknologi

Permainan Intelijen, Radikalisme Sekuler vs Radikalisme Agama, dan Jalan Sains

“Isu gerakan radikalisme agama merupakan taman bermain bagi intelijen dan ini membahayakan masa depan agama,” ujar Prof. John L. Esposito, Guru Besar Studi Islam di Universitas Georgetown, Amerika Serikat.


Pernyataan Esposito bisa jadi benar. Menurut Karen Armstrong dalam The Batlle for God: Lewat badan intelijen, negara-negara di dunia sering menggunakan kelompok-kelompok keagamaan sebagai instrumen untuk memainkan kepentingan mereka. Kasus HAMAS (Gerakan Pertahanan Islam) di Palestina, menjadi salah satu contohnya.

“Israel pada awalnya mendukung HAMAS, sebagai cara untuk meruntuhkan PLO,” ujar perempuan yang dijuluki sebagai “Duta Besar Islam di Dunia Barat” tersebut.

Pendiri WikiLeaks Julian Assange memperkuat pendapat Karen Armstrong. Dalam suatu wawancara dengan sebuah surat kabar Argentina yang dikutip Russia Today, Assange mengatakan: “Jaringan kami mengungkapkan bahwa Israel selalu mendukung HAMAS terutama pada masa awal kelompok ini berkembang, tujuannya untuk memecah perjuangan rakyat Palestina untuk merdeka.”

ISIS juga disinyalir sebagai organ yang dibentuk para agen Mossad (Badan Intelijen Israel), CIA (Badan Intelijen AS) dan M16 (Badan Intelijen Inggris). Berbagai kalangan mengakui hal tersebut, termasuk Edward Snowden, eks anggota NSA (Badan Keamanan Nasional AS) yang membelot ke Rusia.

Dirilis Global Research, sebuah organisasi riset media independen di Kanada, Snowden mengungkapkan bahwa satuan intelijen Mossad Israel dibantu dinas rahasia AS dan Inggris menciptakan gerakan radikal dengan klaim membentuk sebuah negara khalifah baru yang disebut ISIS.

Snowden mengungkapkan, badan intelijen dari tiga negara tersebut membentuk sebuah organisasi teroris untuk merangkul semua ekstremis di seluruh dunia. Mereka menyebut strategi tersebut dengan nama 'sarang lebah'.

Dokumen NSA yang dirilis Snowden menunjukkan bagaimana strategi sarang lebah tersebut dibuat untuk kepentingan zionis Israel dengan menciptakan doktrin yang memanipulasi ajaran Islam.

Berdasarkan dokumen tersebut, para pentolan ISIS mendapatkan pelatihan khusus dari Mossad, Israel. Dilatih merumuskan doktrin teologis, taktik propaganda dan teknik cuci otak, mengorganisasikan aksi-aksi teror, dan sebagainya.

 

Jalan Sains dan Ayat-ayat Kauniyah

 

Dalam bukunya yang berjudul “Ajal Agama di Tengah Kejayaan Sains” Huston Smith, pakar perbandingan agama-agama paling terkemuka di dunia, punya hipotesa bahwa agama dan sains tidak akan saling membunuh, melainkan bekerjasama menyelamatkan masa depan bumi.


Berangkat dari kegelisahannya akan krisis yang melanda kehidupan manusia, baik di Timur maupun Barat, terutama yang menimpa dunia spiritual modern. Kondisi tersebut menurut Smith dicirikan antara lain oleh rasa kehilangan pada yang Yang Transenden dalam cakrawala yang lebih luas. Dunia kehilangan dimensi manusiawinya, dan manusia kehilangan kendali atas dirinya.

Smith menyorot pendidikan yang mulai kehilangan dimensi spiritualitasnya karena tekanan dalil hukum yang berlebihan dalam kajian agama. Kemudian adalah media dan mereka yang turut menyebarkan pendangkalan agama, yang direpresentasikan oleh segelintir pemuka agama yang bersikap memiliki hak prerogatif atas keyakinan beragama.

Smith kemudian bergerak ke arah sains yang berpotensi memperkaya pemikiran religius, yang di kalangan ilmuwan muslim banyak mengulas ayat-ayat kauniyah, paralel dengan penelusuran sains dan filsafat. 

Huston Smith pun berharap pada fisika, biologi, dan psikologi kognitif. Gagasan inti Smith adalah kembali pada pandangan inti dunia-tradisional yang punya berjuta kearifan.

Huston Smith jelas, ia menghidupkan kembali refleksi filosofis-metafisis, dan solusinya adalah kembali pada jantung esensial agama-agama.

Jika tidak dilakukan, kata Huston Smith, kita hanya dapat memilih menjadi atheis atau fundamentalis. Atheis bukan dalam pengertian tidak percaya pada Tuhan, melainkan “perlawanan pada theologi” yang membelenggu. Fundamentalis bukan dalam pengertian “asasi yang benar” melainkan “perlawanan dan kontra pada siapa saja yang berbeda doktrin keyakinan darinya”

Menurut Huston Smith, dua pilihan itu sangat ironi dan mengenaskan. Sebab, atheis membawa dampak pada radikalisme sekuler yang residunya adalah fundamentalisme liberal. Sedangkan fundamentalisme agama membawa dampak pada radikalisme tekstual atau fundamentalisme literal.

Kalau kita lihat pertempuran yang terjadi di beberapa negara, kata Smith, kesimpulannya sama: pertempuran karena basis atheisme dan fundamentalisme. Bukan pertempuran demi tegaknya keadilan, bukan pertempuran demi Tuhan, bukan pertempuran keyakinan beragama yang murni.

 

Dalam bukunya, Agama Manusia, Smith mengajak melihat secara kontemplatif:

"Betapa menakjubkan! Para hamba Tuhan dari berbagai negeri berdoa mengangkat suara kepada Tuhan seluruh manusia dan semesta alam dengan berbagai caranya masing-masing. Bagaimana bunyi suara-suara itu bagi Tuhan? Tak seorangpun yang tahu. Sebaiknya kita berupaya mendengarkan dengan hati-hati dengan penuh perhatian setiap "suara" secara bergantian sewaktu membumbung ke hadirat illahi." tutur Huston Smith.

 

 

M. Yudhie Haryono, Abraham Mohammad, Siti Rahmah

Bagikan Via Line, WhatsApp, Twitter, Facebook

 

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *