fbpx
Teori Kuantum tentang Siklus Kelahiran dan Kematian

Teori Kuantum tentang Siklus Kelahiran dan Kematian

Oleh suhu dingin air bisa membeku jadi es dan oleh suhu panas bisa menguap ke udara. Air bisa terpendam di tanah, mengalir di sungai dan lautan. Bisa meresap di mana saja.
 
Air, walaupun dapat melarutkan berbagai zat lain, akan tetapi air tidak melekat ke dalam zat. Air yang kita minum sudah berada di planet Bumi ini sejak jutaan tahun silam. Air tersebut sudah mengalami siklus perjalanan yang sangat panjang. Pernah menjadi air buah, air kencing, air hujan, air bah, bahkan pernah menjadi air bangkai. Dan lain sebagainya.
 
Matahari akan menguapkan air di siang hari, memisahkannya dengan berbagai zat yang melarut di dalamnya, lalu menjadi air hujan dan kembali terserap ke dalam tanah menjadi mata air. Begitulah alam telah mengatur kemurnian air untuk kehidupan mahluk di Bumi.

Para ahli astrofisika modern telah mengamati bahwa triliunan galaksi dalam kosmos mengikuti suatu siklus: yaitu kelahiran, pertumbuhan, kematian dan kebangkitan kembali. 

Bintang-bintang, seperti halnya manusia, tidak pernah sebenarnya mati, namun beberapa bahan dasar seperti besi, karbon, oksigen dan nitrogen secara terus-menerus didaur-ulang dalam ruang sebagai debu kosmis, bintang baru, tanaman dan kehidupan. 

Semua dalam alam semesta berekspansi sebagai energi, dan energi secara sederhana berubah dari suatu keadaan ke keadaan lain untuk selanjutnya naik menuju inti kosmis, untuk berproses menjalani siklus kehidupan baru.

Dalam dunia sub-atomik, hukum fisika tidak lagi merupakan suatu kepastian, tetapi gerak partikel diatur oleh konsep probabilitas. Pandangan terakhir ini yang menyangkut indeterminisme menimbulkan kontroversi.

Partikel dasar adalah partikel yang; partikel lainnya yang lebih besar terbentuk. Contohnya, atom terbentuk dari partikel yang lebih kecil dikenal sebagai elektron, proton, dan netron. Proton dan netron terbentuk dari partikel yang lebih dasar dikenal sebagai quark. Salah satu masalah dasar dalam fisika partikel adalah menemukan elemen paling dasar atau yang disebut partikel dasar, yang membentuk partikel lainnya yang ditemukan dalam alam, dan tidak lagi terbentuk atas partikel yang lebih kecil.

Dalam fisika kuantum, radiasi adalah zarah (partikel sub atom, partikel terkecil dan terhalus). Zarah yang bisa menempati suatu titik secara bersama-sama, disebut boson. Zarah yang individualis, tidak mau bersama-sama, disebut fermion. Tapi, gabungan fermion berjumlah genap jadi boson, sedangkan gabungan boson tetap boson. Aneh bin rumit memang.

Fisikawan abad ke-20 merasa takjub ketika dasar-dasar pandangan sains mereka terguncang oleh pengalaman baru dari realitas atom, dan mereka menggambarkan pengalaman ini dalam istilah-istilah yang sangat mirip dengan yang digunakan oleh para Sufi. Heisenberg menulis: “… perkembangan terakhir di fisika modern hanya dapat dimengerti ketika seseorang menyadari bahwa di sini dasar-dasar fisika sudah mulai bergerak; dan bahwa gerakan ini telah menyebabkan perasaan bahwa ini telah memotong dasar dari ilmu pengetahuan.” 

Penemuan fisika modern mengharuskan perubahan mendasar dari konsep-konsep seperti ruang, waktu, materi, objek, sebab dan akibat, dll.

Dalam teori Kuantum setiap keadaan partikel (posisi, momentum, energi dst) ketika formulasi telah dirumuskan maka perilaku partikel dapat diprediksi. Schrödinger menunjukkan bahwa perilaku partikel dapat ditunjukkan oleh sebuah persamaan matematis gelombang. Namun persamaan tersebut meramalkan dua hasil kemungkinan secara sepadan. 

Oleh para Fisikawan konsekuensi indeterminisme ini biasanya dilukiskan secara dramatis dalam sebuah “eksperimen” yang dikenal dengan kucing Schrodinger (Dewitt, 1970). Bisa dalam dua keadaan skizofrenik sekaligus: yaitu “hidup yang juga mati, dan mati yang juga hidup”. Jelas sekali bahasa metafora yang digunakan, dari ketidakmampuan fisikawan untuk menerangkan keadaan “yang sesungguhnya” terjadi. Namun hal tersebut merupakan konsekuensi pengembangan teori Kuantum.

Albert Einstein sangat tidak nyaman dengan konsekuensi terakhir ini. Meskipun pada masa mudanya Einstein turut serta dalam membangun teori Kuantum (pada kasus efek fotolistrik) namun Einstein tua justru merupakan seorang penentang konsekuensi filosofis teori Kuantum, sampai-sampai dia berucap “Tuhan tidak bermain dadu”. Dalam debat melawan Bohr dan kawan-kawan, argumentasi Einstein tentang determinisme selalu dapat dipatahkan. Sehingga sampai saat ini teori Kuantum yang meskipun “agak edan” tetapi terbukti merupakan teori yang dapat menerangkan dunia mikroskopis.

Selanjutnya dalam kerangka teori relativitas juga dimungkinkan dibuat suatu kerucut ruang-waktu: masa lalu, masa sekarang dan masa mendatang. Dalam hal ini –secara matematik– ada bagian yang berada di luar kerucut ruang waktu ini, sehingga dapat dikatakan di luar dunia fisik yang kita tempati ini masih ada kemungkinan “dunia lain”. 

Hal ini juga didukung oleh teori Kuantum yang menawarkan many worlds interpretation atau interpretasi banyak dunia yang diungkapkan oleh Everett. Artinya alam semesta yang kita tempati ini bukan satu-satunya. 

Dalam satu alam semesta, apa yang dinamakan jasad bisa mati. Namun di dimensi yang lain kesadarannya tetap hidup, kemudian bermigrasi melakoni garis nasibnya yang lain. 

Ketika seorang manusia mencapai tingkatan spiritual kesadaran kuantum maka dalam diri manusia tersebut berlaku hukum fisika kuantum. Kesadaran kuantum adalah teori kesadaran yang mendasari keterhubungan manusia dengan segala sesuatu, didasarkan pada fakta bahwa medan kuantum dapat menjangkau segala sesuatu bahkan yang terjauh dan multi dimensi.

Dalam hukum fisika kuantum tidak ada lagi jarak dan waktu. Ilmuwan telah membuktikan dalam “teori kuantum superposisi”, bahwa suatu benda bisa berada di dua dimensi yang berbeda pada waktu yang sama.

Dengan 
kesadaran kuantum, manusia bergerak menuju suatu tingkatan kesadaran yang semakin tinggi dan pada akhirnya berada dalam posisi selaras dengan sumber kehidupan. 
  
 
Zid

© 2018 Zid World All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *