Anak Krakatau Gerbang Menuju Perut Bumi

Gunung Anak Krakatau adalah Gerbang Menuju Perut Bumi

Sekitar 47 tahun setelah gunung Krakatau meletus dan menghilang ditelan ledakan dahsyat pada 1883, bongkahan lava menyeruak ke atas permukaan laut Selat Sunda. Ia mengering dan membentuk kubah kecil. Pada tahun 1930 Krakatau kembali menyapa matahari. Penduduk menamainya Anak Krakatau.

 

Krakatau dikenal dunia karena letusan yang sangat dahsyat pada 26-27 Agustus 1883. Awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.

Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.



Gerbang Menuju Perut Bumi

Sejak dekade 1950an, gunung api berusia muda ini tumbuh pesat, mencapai 13cm per pekan atau mencapai tujuh meter per tahun. Penyebabnya adalah geliat magma yang tak henti-henti di perut Bumi. Karena Krakatau terletak di atas zona subduksi yang ketika aktif melumerkan batuan menjadi lava. Fenomena inilah yang memompa pertumbuhan Anak Krakatau. 



Erupsi Tak Henti-henti

Sejak 1950an, Anak Krakatau meletus dalam rentang satu hingga maksimal dua tahun. Hanya antara 1988-1992 dan 2001-2007 gunung api yang kini mencapai ketinggian 300an meter di atas permukaan laut tersebut membisu untuk waktu yang relatif panjang. Sejak 2015 Anak Krakatau kembali memasuki periode aktif. 


Kejutan Muram di Akhir Tahun

Ilmuwan sempat meyakini Anak Krakatau hanya akan kembali mengancam jika mencapai ketinggian serupa sang ibu, yakni 800an meter di atas permukaan laut. Namun erupsi pada 22 Desember 2018 tercatat sebagai yang paling mematikan dalam sejarah Anak Krakatau. 


Maut Mengintai di Pinggir Laut

Serupa seperti letusan Krakatau pada 1883, geliat vulkanik Anak Krakatau Desember 2018 menciptakan gelombang tsunami yang menewaskan ratusan orang di Banten dan Lampung. Gelombang air itu tercipta ketika punggung gunung seluas 44 hektar amblas ke dalam laut. Erupsi yang terjadi secara terus menerus memicu kekhawatiran terhadap tsunami berulang di Selat Sunda.


 
DWnesia - ZAMANe

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *