fbpx
Studi: Ini Sebabnya Jin Tidak Gampang Dilihat Manusia, Tapi Terkadang Terekam Kamera

Studi: Ini Sebabnya Jin Tidak Gampang Dilihat Manusia, Tapi Terkadang Terekam Kamera

Spektrum kasat mata adalah bagian dari spektrum elektro dari spektrum optik. Mata normal manusia akan dapat menerima panjang gelombang dari 400 sampai 700 nm, meskipun beberapa orang dapat menerima panjang gelombang dari 380 sampai 780 nm (atau dalam frekuensi 790-400 terahertz).


Mata yang telah beradaptasi dengan cahaya biasanya memiliki sensitivitas maksimum di sekitar 555 nm, di wilayah hijau dari spektrum optik. Warna pencampuran seperti pink atau ungu, tidak terdapat dalam spektrum ini karena warna-warna tersebut hanya akan didapatkan dengan mencampurkan beberapa panjang gelombang.

Panjang gelombang yang kasat mata didefinisikan oleh jangkauan spektral jendela optik, wilayah spektrum elektromagnetik yang melewati atmosfer Bumi hampir tanpa mengalami pengurangan intensitas atau sangat sedikit sekali, meskipun cahaya biru dipencarkan lebih banyak dari cahaya merah, salah satu alasan: mengapa langit berwarna biru.

Radiasi elektromagnetik di luar jangkauan panjang gelombang optik, atau jendela transmisi lainnya, hampir seluruhnya diserap oleh atmosfer. Dikatakan jendela optik karena manusia tidak bisa menjangkau wilayah di luar spektrum optik. Inframerah terletak dekat di luar jendela optik, namun tidak dapat dilihat oleh mata manusia.

Banyak spesies yang dapat melihat panjang gelombang di luar jendela optik. Lebah dan serangga lainnya dapat melihat cahaya ultraviolet, yang membantu mereka mencari nektar di bunga.

Spesies tanaman bergantung pada penyerbukan yang dilakukan oleh serangga sehingga yang berkontribusi besar pada keberhasilan reproduksi mereka adalah keberadaan cahaya ultraviolet, bukan warna yang bunga perlihatkan kepada manusia. Burung juga dapat melihat ultraviolet (300-400 nm).

Keterbatasan Pengelihatan dan Pendengaran Manusia

Indera pengelihatan manusia misalnya, hanya dapat melihat pada gelombang atau spektrum dari warna merah sampai warna ungu, di bawah warna merah atau dikenal sebagai “infra red” mata manusia sudah tak lagi dapat melihatnya. Begitu pula di atas ungu yang dikenal sebagai “ultra violet”, mata manusia juga sudah tak lagi dapat melihatnya, mirip infra red.

Kedua spektrum itu hanya dapat dilihat melalui bantuan alat yang hanya dapat mendetaksi infra red dan ultra violet. Diatas atau dibawah itu seperti sinar alpha beta, gamma dan sejenisnya manusia juga tak mampu melihatnya.

Untuk membuktikannya Anda dapat melakukan percobaan sederhana. Anda hanya perlu menyiapkan dua alat bantu saja dan keduanya pasti Anda miliki, yaitu sebuah remote control TV atau AC atau remote control apapun. Dan alat kedua adalah kamera digital, atau bisa juga pakai kamera yang ada di ponsel Anda.

Caranya, tekan tombol apapun di remote control dan pada saat yang sama lihatlah LED IR (Iinfra red) pada remote yang berada di ujungnya. LED IR harusnya menyala, namun mata anda tak mampu untuk melihat sinar infra red tersebut.

Kini ambillah kamera digital/ponsel Anda, lalu sorot ke LED IR pada remote control yang sedang Anda tekan tombolnya. Maka sinar infra red pada lampu LED akan terlihat oleh mata Anda dengan bantuan kamera digital tersebut.

Mengapa kamera ponsel dapat mampu mendeteksi sinar infra red tersebut? Karena dalam ilmu fotografi ada istilah yang disebut frame per second (FPS) atau gambar per gambar dalam setiap detiknya.


FPS, yaitu sebuah satuan kecepatan kamera video dalam mengambil sukma atau objek berdasarkan gambar per gambar, atau penangkapan objek dengan wujud berupa frame atau seperti gambar atau foto.


Tapi karena sangat cepat pergantiannya, maka mata kita tak dapat melihat pergantian gambar per gambar atau foto per foto tersebut, kecuali dengan suatu alat bantu.

Sedangkan mata manusia azas kerjanya tak sama seperti video kamera. Pada mata manusia pengelihatannya adalah konstan dan terus menerus, bukan berdasarkan frame per frame.

Itu baru contoh dan pembuktian kecil, bahwa mata kita hanya dapat melihat pada spektrum terbatas dari tak terbatasnya frekuensi di jagad raya.

 

 

Sama seperti penglihatan, pendengaran manusia juga sangat terbatas, hanya sekitar 20-22 Hertz hingga 20-22 kilo Hertz, dibawah dan diatas itu disebut infra sonic dan ultra sonic.

Nyaris dibatas atas pada dunia audio mirip suara treble, dan nyaris pada batas bawahnya mirip dentuman bass.

Di luar kedua batas atas dan batas bawah frekuensi suara itu, manusia mulai tak dapat lagi mendengarnya melalui panca indera yang dimilikinya, telinga.

Berbeda dengan hewan, beberapa hewan dapat melihat spektrum cahaya dan dapat mendengar spektrum frekuensi suara diluar kemampuan manusia. Oleh karenanya banyak jenis hewan yang dapat mengetahui akan terjadi gempa bumi atau bahkan dapat melihat makhluk astral alias makhluk ghaib.

 

Jin "hidup berdampingan" dengan dunia manusia tetapi dalam dimensi yang berbeda.


Dimensi mereka para jin, tak terpengaruh oleh tempat dan waktu dimensi kita karena berada di dimensi lain (bukan pada dimensi ketiga seperti manusia). Secara "wireless" mereka dapat terkoneksi pada benda dan makhluk dan menyusup ke dunia manusia.

 
Apakah dengan kemajuan manusia dalam penguasaan sains dan teknologi akhirnya manusia dan jin akan berinteraksi secara nyata, bersaing bertarung?
 
 
Siti Rahmah ©IndoCropCircles 

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *