Temuan Arkeolog: Nenek Moyang Manusia Sudah Ada di Nusantara 44 Ribu Tahun Lalu

Temuan Arkeolog: Nenek Moyang Manusia Sudah Ada di Nusantara 44 Ribu Tahun Lalu

Sebuah lukisan di dinding sebuah gua di Sulawesi Selatan diketahui berumur 44.000 tahun. Berarti saat itu sudah ada nenek moyang manusia hidup di sana, di zaman es akhir.

 

 

 

Pada zaman es akhir, periode banjir besar melanda bumi, yang ditafsirkan sebagai era Nabi Nuh. Dalam bukunya Noah's Flood, William Ryan dan Walter Pitman menyatakan para ahli geologi kelautan mengklaim bahwa mereka telah menemukan asal mula banjir besar yang menurut kisahnya telah menghancurkan peradaban kuno yang berada di pinggir Laut Tengah dan Laut Hitam.


Lukisan di dinding gua itu tampak memperlihatkan seekor anoa sedang diburu sekelompok figur setengah manusia dan setengah hewan dengan tombak dan tali.

Beberapa peneliti memperkirakan lukisan purbakala ini adalah kisah terekam yang tertua di dunia.

Lukisan gua tersebut terletak di situs Leang Bulu' Sipong 4 yang merupakan satu dari ratusan gua di daerah Karst Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan.

Sementara itu, di gua Lubang Jeriji Saléh, Kalimantan Timur, para arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan University of Australia menemukan gambar seperti sapi yang dikonfirmasi sebagai karya seni figuratif tertua di dunia.

Maxime Aubert, arkeolog sekaligus geokimiawan dari University in Australia yang bekerja sama dengan peneliti Indonesia, kemudian beralih ke penanggalan radiometrik untuk mencari tahu umur lukisan tersebut dengan pasti. Dia tidak hanya meneliti gambar hewan—yang diduga merupakan spesies sapi liar atau banteng—tapi juga siluet tangan yang tersebar di seluruh gua itu.

Gambar tersebut diperkirakan berasal dari 40 ribu hingga 52 ribu tahun lalu, selama periode Paleolitik dan akhir zaman es.

“Gambar tapak tangan di Kalimantan kelihatannya menunjukkan usia yang sama. Memberi kesan bahwa tradisi gambar cadas Zaman Paleolitik pertama kali muncul di Kalimantan sekitar 52.000 dan 40.000 tahun yang lalu,” papar Adhi Agus Oktaviana, co-leader sekaligus spesialis gambar cadas dari Arkeanas.

Penemuan ini menunjukkan bahwa seni gua figuratif—salah satu inovasi paling signifikan dalam budaya manusia—tidak dimulai di Eropa seperti yang banyak orang pikirkan, tetapi di Asia Tenggara pada akhir zaman es.

Temuan tersebut dimuat ke dalam jurnal Nature oleh tim peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Indonesia bersama tim peneliti dari Universitas Griffith, Australia.


Bagaimana cara mengetahui lukisan itu berumur 44.000 tahun?

Bersama dengan timnya, Aubert meneliti bagian kecil dari gambar sapi atau banteng yang tertutup lapisan kalsit tersebut. Kalsit inilah yang kemudian yang menjadi subjek teknik penanggalan uranium-torium.

“Air hujan merembes ke dalam batu kapur dan melarutkan sejumlah kecil uranium. Uranium merupakan radioaktif, dan seiring berjalannya waktu, ia meluruh untuk membetuk elemen lain yaitu torium. Dari sanalah, tingkat pembusukannya diketahui,” jelas Aubert.

“Kuncinya adalah: uranium larut dalam air sementara torium tidak. Jadi, ketika lapisan kalsit membentuk air hujan yang ada di atas lukisan, ia pasti mengandung uranium, tetapi tidak ada torium. Jika kita mengambil sampel berusia ribuan tahun lalu mengukur rasio uranium versus torium, kita dapat menghitung usia lapisannya,” tambahnya. 
 

Bagikan Via WhatsApp, Twitter, Facebook

 

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *