Swarm, Kawanan Drone Kecil yang Sanggup Hancurkan Pasukan Militer

Swarm, Kawanan Drone Kecil yang Sanggup Hancurkan Pasukan Militer

Mereka bernama swarm (atau kawanan) - kumpulkan dengan jumlah yang cukup maka mereka bisa melampaui kemampuan manusia dalam berbagai hal. Mereka bisa menyelamatkan hidup kita atau bahkan sebaliknya, menjadi kekuatan kolaboratif yang mematikan dalam peperangan.



Pertama-tama, di medan perang, mereka bisa mengalahkan senjata dan teknologi yang digunakan militer.

Coba pikirkan: tim quadrotor kecil bisa terbang ke mana saja untuk mengambil informasi intelijen.

Tank batalion bisa dikuasai oleh serangan pasukan drone mini yang terbang dari berbagai arah secara bersamaan. Di laut, ribuan pasukan drone kecil bisa menyerang kapal perang, mungkin banyak yang bisa ditembak jatuh, tetapi masih banyak yang bisa lolos: merusak radar, dan membuat kapal tak berdaya.

Plus, tidak ada pemimpin atau komandan dalam kawanan drone ini; mereka adalah sistem yang bisa mengorganisir diri mereka sendiri di mana satu dan lainnya punya posisi yang sama. Sistem ini memungkinkan mereka menyisir area secara efisien, atau terbang bersama tanpa bertabrakan. Dan hanya satu operator yang dibutuhkan untuk mengontrol seluruh swarm ini.

Kawanan drone juga tangguh. Satu misil bisa menjatuhkan pesawat, tapi sekelompok swarm meski kehilangan belasan anggota tetapi tetap bisa melanjutkan misi. Pertahanan udara dengan pasokan misil yang terbatas bisa kewalahan.

Tapi tidak hanya itu, drone mini ini juga bakal digunakan dalam situasi lain, dari konser musik rock hingga kawasan pertanian.

Laboratorium Kendaraan Mikro Udara di Universitas Delft, Belanda, sedang mengembangkan swarm bernama 'pocket drone', yang masing-masing berukuran kecil hingga cukup dalam genggaman Anda. Mereka bisa terbang dalam ruangan, dalam gedung yang sangat rusak sehingga tak mungkin tim penyelamat masuk. Mereka bisa menyebar untuk mencari korban selamat setelah gempa bumi atau bencana lain.

Para peneliti di Loughborough University telah membangun sistem untuk membantu tim SAR di gunung dengan penggunakan sekelompok drone kecil yang berjumlah hingga 10. Drone ini dilengkapi dengan kamera termal yang bisa dengan mudah menemukan pendaki yang hilang. Dan dengan berkomunikasi satu sama lain, mereka dengan tepat bisa menyisir sepenuhnya area tersebut.

Militer negara mana yang mengembangkan swarm?

Lebih dari satu negara adidaya yang mengincar teknologi swarm.

AS misalnya, baru-baru ini meluncurkan 103 drone 'Perdix' kecil dari pesawat jet F/A-18. Beratnya hanya beberapa ratus gram dan diluncurkan dari lubang peluncur yang biasa dipakai untuk melepas suar. Perdix yang diproduksi dengan printer 3D ini adalah drone sekali pakai yang dimaksudkan untuk menekan pertahanan udara pihak lawan dengan berperan sebagai umpan atau pengecoh atau dengan mencari posisi radar sehingga itu bisa dihancurkan.

Angkatan laut AS juga ingin mengembangkan swarm dengan biaya yang lebih murah dibandingkan misil. Mereka mengembangkan piranti lunak yang memungkinkan swarm membagi dua dalam misi yang khusus, atau drone baru bisa bergabung dengan kawanan swarm dengan mulus.

Pemain lainnya adalah Cina, yang unggul dalam teknologi drone konsumer berukuran kecil. Perusahaan Cina DJI saja telah meraup 70% pasar global dan kini militer Cina melihat potensi teknologi baru ini.

Perusahaan milik negara China Electronics Technology Group Corporation (CETC) memamerkan sebuah video yang memperlihatkan 70 drone terbang bersamaan. Drone tersebut terbang dalam formasi dan berkolaborasi dalam misi kecerdasan-kelompok. Mereka terbang dalam sebuah serangan secara bersamaan dari sisi yang berbeda - terlalu banyak untuk dihentikan oleh sang target.

Mungkin rencana yang paling ambisius adalah proyek angkatan laut AS serangkaian drone yang bisa digunakan di darat, laut, dan udara. Mereka mungkin menjadi yang pertama dikirim ke pesisir sebelum manusia, untuk menyisir, mencari posisi musuh, dan mungkin menyerangnya. Swarm juga bisa memberi pertahanan melawan swarm lawan. Untuk mengeksplorasi proyek ini, korps membuat permainan perang swarm versus swarm. (Sudah ada drone yang didesain untuk menangkap drone.)

Drone mini ini bisa menjadi mata-mata, pengintai, atau pengumpulan informasi intelijen juga. Defense Advanced Research Projects Agency (Darpa), badan sains terdepan milik Pentagon memiliki visi untuk membekali para prajurit dengan swarm milik mereka sendiri untuk pengintaian terutama di wilayah perkotaan dan dalam bangunan.

"Dua ratus lima puluh harus menguasai enam blok di kota," kata Stephen Crampton dari Swarm Systems. Swarm ini bisa berpotensi "mengatur diri mereka sendiri dalam sub-swarms untuk mengirim informasi yang berguna, misalnya memberi tahu tentang ancaman di posisi kita."

Teknologi swarm masih dalam tahap awal, tetapi berkembang cepat.

Teorinya, swarm bisa mengalahkan senjata apapun yang ada sekarang dan bisa menjadi senjata presisi yang menyebabkan kehancuran skala besar. Dampaknya bisa menyaingi perkembangan senapan mesin: siapa pun tanpa swarm akan mengalami kekalahan telak di medan perang.

 

Tags: ,

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *