fbpx
Dengan Agama dan Sains Menyingkap Tabir Alam Semesta

Dengan Agama dan Sains Menyingkap Tabir Alam Semesta

Huston Smith, pakar perbandingan agama-agama paling terkemuka di dunia, punya hipotesa bahwa agama dan sains tidak akan saling membunuh, melainkan bekerjasama menyelamatkan masa depan manusia.


Berangkat dari kegelisahannya akan krisis yang melanda kehidupan manusia, terutama yang menimpa dunia spiritual modern. Kondisi tersebut menurut Smith dicirikan antara lain oleh rasa kehilangan pada yang Yang Transenden dalam cakrawala yang lebih luas. Dunia kehilangan dimensi manusiawinya, dan manusia kehilangan kendali atas dirinya.

Smith kemudian bergerak ke arah sains yang berpotensi memperkaya pemikiran religius, paralel dengan penelusuran filsafat. 

Huston Smith pun berharap pada fisika, biologi, dan psikologi kognitif. Gagasan inti Smith adalah kembali pada pandangan inti dunia-tradisional yang punya berjuta kearifan. 
Huston Smith jelas, ia ingin menghidupkan kembali refleksi filosofis-metafisis, dan solusinya adalah kembali pada jantung esensial agama.

 

Sains membutuhkan bukti, agama membutuhkan iman. Ilmuwan tidak mencoba untuk membuktikan atau menyangkal keberadaan Tuhan, karena mereka tahu tidak ada eksperimen yang dapat mendeteksi Tuhan.



Dan jika Anda percaya pada Tuhan, tidak menimbulkan masalah apa pun pada yang ditemukan para ilmuwan tentang alam semesta - apa pun tentang kosmos dapat dianggap konsisten dengan keberadaan Tuhan.

 
Salah satu pernyataan yang banyak dikutip dari esai Einstein "Sains dan agama" yang diterbitkan pada tahun 1954: “Sains tanpa Agama itu lumpuh, Agama tanpa Sains itu buta.”

Religiusitas Einstein dan keyakinannya pada kesesuaian — bahkan, saling ketergantungan — sains dan agama. Bahwa sains dan agama harmonis karena keduanya memiliki tugas yang saling melengkapi: sains membantu kita memahami struktur fisik alam semesta, sedangkan agama berurusan dengan nilai-nilai, moral, dan makna kemanusiaan. 
 
Multisemesta

Banyak kosmolog meyakini bahwa alam semesta mungkin merupakan bagian dari kosmos yang lebih luas, yakni multi-semesta atau multiverse, kondisi di mana banyak alam semesta yang berbeda hidup berdampingan namun tidak berinteraksi.

Gagasan multiverse didukung oleh teori inflasi - gagasan bahwa alam semesta mengembang sangat pesat sebelum berumur 10 ^ -32 detik.

Inflasi merupakan teori yang penting karena dapat menjelaskan mengapa alam semesta memiliki bentuk dan struktur yang kita lihat di sekitar kita.

Namun, jika inflasi bisa terjadi sekali, kenapa tidak berkali-kali?

Kita tahu dari eksperimen bahwa fluktuasi kuantum dapat memunculkan pasangan partikel yang tiba-tiba muncul, hanya untuk menghilang beberapa saat kemudian.

Dan jika fluktuasi seperti itu dapat menghasilkan partikel, mengapa tidak seluruh atom atau alam semesta?

Telah dikemukakan bahwa selama periode inflasi yang kacau, tidak semuanya terjadi pada tingkat yang sama - fluktuasi kuantum dalam ekspansi dapat menghasilkan gelembung yang meledak menjadi alam semesta dengan sendirinya.

Tapi, apakah keberadaan Tuhan cocok dengan multiverse? Bagi ilmuwan yang beriman tidak pusing, karena Tuhan Maha Tak Terbatas.

Fisikawan Stephen Hawking pernah mengajukan pertanyaan: Apa kegiatan Tuhan sebelum menciptakan alam semesta? Apakah Tuhan akan memasukkan saya ke neraka karena bertanya seperti itu?

Pertanyaan seperti itu muncul karena berpikir Tuhan sama dengan manusia dalam pusaran ruang dan waktu. Tuhan tidaklah terikat hukum-hukum alam yang diciptakanNya. Dia adalah Maha Kehendak yang tak terbatas. Alam ciptaanNya bukanlah hanya alam semesta yang kita huni, Tuhan Maha Tak Terbatas, Dia mencipta berbagai alam tanpa batas.

Sudah sejak berabad silam, filsuf muslim Ibnu Rusyd memaparkan: Makna Qadim adalah bukan terciptakan dan menjadi satu dengan hakikat Allah. Jadi, Tuhan Qadim berarti Tuhan tidak diciptakan, tetapi adalah Pencipta, dan alam Qadim berarti berbagai alam yang tak terbatas diciptakan Tuhan dalam keadaan terus menerus sejak zaman tak berawal hingga zaman tak berakhir. 

Dengan demikian sungguhpun alam Qadim, alam bukan Tuhan, tetapi adalah ciptaan Tuhan.
 
Bahwa berbagai alam yang tak terhingga, berproses bersiklus terus menerus. Sejak zaman tak berawal hingga zaman tak berakhir, diciptakan lalu kiamat, diciptakan lalu kiamat, tidak terbatas, tidak terhingga. Namun hanya sedikit saja yang diketahui manusia. Karena kemampuan manusia ada batasnya. Manusia hanya hidup sebentar saja di dunia ini, lalu mati. Sekarang pertanyaannya: Apa kegiatan manusia sesudah mati?
 
 
 
Monica Grady, The Conversation - BBC
Siti Rahmah @ZamaneWorld

© 2018 Zid World All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *