fbpx
Ilmuwan Temukan Fakta Materi Gelap yang Mempengaruhi Kehidupan di Alam Semesta

Ilmuwan Temukan Fakta Materi Gelap yang Mempengaruhi Kehidupan di Alam Semesta

Sebuah tim peneliti internasional telah membuat peta terbesar dan paling rinci atas apa yang disebut materi gelap di alam semesta. Ini bisa meruntuhkan teori Albert Einstein. Berikut ini rangkuman Pallab Ghosh, Koresponden Sains BBC.



Ini mengejutkan kalangan ilmuwan, karena peta ini menunjukkan materi gelap yang lebih halus dan lebih tersebar, berbeda jika dibandingkan dengan prediksi teori-teori selama ini.

Pengamatan tersebut nampaknya bertentangan dengan teori relativitas umum Einstein - sehingga memunculkan teka-teki baru bagi para peneliti.

Hasil pengamatan ini telah dipublikasikan oleh Dark Energy Survey Collaboration.

Materi gelap adalah zat tak kasat mata yang dapat menembus materi jasadi serta ruang dan waktu. Zat ini berkontribusi terhadap 80 persen materi di alam semesta.

Para ahli astronomi dapat mengetahui keberadaannya, karena materi gelap ini dapat mendistorsi cahaya dari bintang-bintang yang jauh. Semakin besar distorsinya, semakin besar konsentrasi dari materi gelap.

Dr Niall Jeffrey dari École Normale Supérieure di Paris, yang ikut membuat peta itu, mengatakan bahwa hasil gambaran materi gelap ini memunculkan "persoalan nyata" bagi ilmu fisika.

"Jika perbedaan ini benar, kemungkinan Einstein telah keliru," katanya kepada BBC News. "Anda kemungkinan berpikir bahwa itu adalah hal yang buruk, mungkin akan membuat ilmu fisika runtuh. Tapi bagi para fisikawan, ini sangat menyenangkan. Artinya, kita dapat menemukan sesuatu yang baru mengenai keberadaan alam semesta yang sebenarnya."

Profesor Carlos Frenk dari Durham University, yang meneliti berdasarkan pemikiran-pemikiran Albert Einstein dan para ilmuwan lain dalam mengembangkan teori kosmologi, mengaku perasaannya bercampur aduk mendengar kabar itu.

"Saya menghabiskan waktu saya terhadap teori ini, dan hati saya berkata tidak ingin melihatnya runtuh. Tapi otak saya mengatakan bahwa pengukurannya [peta materi gelap] sudah benar, dan kita harus melihat kemungkinan hukum fisika yang baru," kata Prof Frenk.

"Lalu perut saya melilit, karena kami tak punya dasar yang kuat untuk mengeksplorasi, karena kami tak punya teori fisika dapat jadi pegangan. Hal ini membuat saya gugup dan takut, karena kita memasuki domain yang sama sekali tidak dikenal, dan entah apa nantinya yang akan kita temukan."

Sebanyak 100 juta galaksi telah diamati melalui teleskop observatorium Victor M di Chili untuk membuat peta materi gelap.

Dengan menggunakan teleskop dari observarium Victor M Blanco di Chile, para ilmuan yang berada di balik penelitian ini menganalisis 100 juta galaksi.

Peta itu menunjukkan bagaimana materi gelap menyebar di seluruh jagat raya. Bagian hitam adalah area ketiadaan yang luas, disebut rongga, di mana ini berbeda dari hukum fisika. Bagian yang terang ini adalah bagian di mana materi gelap berkumpul. Mereka disebut "lingkaran cahaya" karena tepat berada di tengahnya adalah realitas di mana kita berada.

Di tengahnya ada galaksi-galaksi seperti seperti Bima Sakti yang kita huni, berkelap-kelip seperti permata kecil di bentang kosmik yang sangat luas.

Menurut Dr Jeffrey, yang juga menjadi bagian dari penelitian ini, peta itu dengan sangat jelas menunjukkan bahwa galaksi-galaksi adalah bagian dari struktur tak kasat mata yang lebih besar.

"Tak ada satu orang pun dari sejarah umat manusia yang dapat melihat ke luar angkasa dan melihat di mana materi gelap sedemikian rupa. Para astronom telah mampu membangun gambaran dari kepingan-kepingan kecil, tapi kami telah mengeluarkan petak-petak baru yang menunjukkan strukturnya. Untuk pertama kalinya kami melihat alam semesta dengan cara berbeda," kata Jeffrey, yang juga peneliti University College London.

Bagian yang oval mewakili langit yang menyeluruh, di bagian warna ungu merupakan area yang telah disurvei terkait materi gelap. Bagian lengkungan yang cerah berasal dari bintang-bintang yang paling terang di langit malam.

Tetapi peta baru materi gelap ini tak begitu menunjukkan apa yang diharapkan para astronom.

Peta ini memiliki gagasan yang akurat mengenai sebaran materi 350.000 tahun setelah Big Bang, dari observatorium Badan Antariksa Eropa yang mengorbit disebut sebagai Planck. Ia mengukur jejak radiasi yang masih ada sejak itu, yang disebut latar belakang gelombang kosmik, atau lebih puitisnya disebut "sisa-sisa penciptaan".

Menggambarkan dari ide-ide Einstein, para astronom seperti Prof Frenk mengembangkan sebuah model penghitungan bagaimana materi alam raya berpencar selama 13,8 miliar tahun hingga saat ini. Tapi observasi aktual dari peta yang baru itu keluar beberapa persen - ini menunjukkan bahwa materi tersebar sedikit terlalu merata.

Akibatnya, Prof Frenk berpendapat mungkin ada perubahan besar yang terjadi dalam pemahaman kita mengenai kosmos.

"Kita mungkin telah mengungkap sesuatu yang sangat mendasar mengenai susunan alam semesta. Teori saat ini masih samar, karena bertumpu pada pilar yang terbuat dari pasir. Dan yang mungkin kita lihat adalah runtuhnya salah satu dari pilar itu."

Akan tetapi yang lainnya, seperti Prof Ofer Lahav dari University College London memiliki pandangan yang lebih konservatif.

"Pertanyaan besarnya, apakah teori Einstein itu sempurna? Kelihatannya telah lulus setiap ujian, tapi dengan beberapa penyimpangan di sana-sini. Mungkin astrofisika galaksi hanya membutuhkan beberapa penyesuaian. Dalam sejarah kosmologi ada contoh di mana masalah menghilang, tapi juga ada contoh pergeseran pemikiran. Ini akan menarik untuk ditelusuri apakah 'ketegangan' pada Kosmologi saat ini akan mendorong pergeseran ke arah paradigma baru," katanya.

Kolaborasi DES ini meliputi 400 ilmuan dari 25 lembaga di tujuh negara.

 

© 2018 ZAMANe.id All Rights Reserved. Designed By JoomShaper *